📚 ANTOLOGI: KETIKA ADAB MURID KIAN MEMUDAR
Karya: Bu Heni – Guru PAI SMPN 3 Ciamis
🌸 Kata Pengantar
Segala puji bagi Allah SWT yang masih memberi kesempatan untuk menulis, merenung, dan berbagi rasa tentang dunia pendidikan yang terus berubah. Dua puluh satu tahun bukan waktu yang singkat untuk menyaksikan perubahan wajah pendidikan: dari papan tulis menjadi layar sentuh, dari tatapan mata menjadi emoji di layar, dan dari cium tangan pagi hari menjadi lambaian singkat di lorong.
Namun, perubahan yang paling terasa bukanlah pada teknologi, melainkan pada adab murid kepada guru—yang perlahan, tapi nyata, mulai memudar. Antologi ini adalah cermin kecil, sebuah catatan hati seorang guru PAI yang masih percaya bahwa pendidikan bukan sekadar soal nilai, tetapi soal budi, rasa, dan akhlak.
Semoga setiap kata di dalamnya menjadi pengingat lembut: bahwa ilmu tanpa adab hanyalah kesombongan yang berseragam rapi.
Ciamis, November 2025
Bu Heni – Guru PAI SMPN 3 Ciamis
🕊️ Puisi: “Ketika Salam Tak Lagi Menggema”
Di lorong sekolah, langkah kaki beradu,
Tak lagi disertai suara lirih, “Assalamu’alaikum, Bu…”
Yang dulu meneduhkan hati lelah seorang guru,
Kini berganti gumaman pelan, bahkan kadang tak terdengar sama sekali.Dulu, tatapan mata murid penuh hormat,
Kini pandangan mereka lebih sering tertuju pada layar datar,
Jari-jemari sibuk menari di atas gawai,
Sementara buku-buku pelajaran seolah menunggu untuk dilupakan.Oh, muridku…
Tahukah engkau bahwa ilmu itu cahaya?
Dan cahaya tak akan menembus hati
Yang terhalang kabut sombong dan malas menyapa.Aku tidak meminta kau mencium tanganku setiap pagi,
Tapi semoga engkau masih tahu,
Bahwa menunduk sejenak di depan ilmu
Adalah tanda kau masih beradab.Aku tak ingin masa lalu kembali,
Aku hanya ingin masa depanmu berakar kuat pada akhlak.Karena ilmu tanpa adab,
Adalah taman tanpa air.
Indah dari jauh,
Tapi mati perlahan dari dalam.
🌾 Cerpen: “Sepotong Roti dan Segenggam Adab”
Pagi itu, Bu Heni berjalan pelan menuju ruang guru. Di tangannya ada sepotong roti sobek yang tersisa dari sarapan terburu-buru. Hari ini adalah jadwal pelajaran PAI untuk kelas 8C — kelas yang belakangan sering membuatnya menghela napas panjang.
Sejak pandemi berakhir, Bu Heni menyadari satu hal: murid-murid kini jauh lebih cerdas secara teknologi, tapi lebih miskin dalam adab. Mereka cepat memahami konsep, tapi lambat dalam menghargai proses. Mereka tahu semua hal di internet, tapi tak lagi hafal tata krama di dunia nyata.
Begitu masuk kelas, suara riuh sambutan bukan berupa salam, melainkan:
“Bu, sinyal Wi-Fi-nya lemah, nih!”
“Bu, tugasnya udah dikirim belum dibales-bales!”
“Bu, nanti boleh sambil makan, kan?”
Bu Heni tersenyum hambar.
“Anak-anak, mari mulai dengan doa dulu, ya,” ucapnya lembut.
Beberapa murid berdiri dengan malas. Ada yang masih menunduk ke layar ponsel, pura-pura sibuk.
Ketika doa selesai, Bu Heni menatap mereka satu per satu.
“Hari ini kita belajar tentang adab terhadap guru,” katanya.
Terdengar bisik-bisik kecil:
“Duh, pelajaran begini lagi…”
“Udah zaman digital, masih aja bahas begituan…”
Tapi Bu Heni tetap tenang. Ia menulis di papan tulis:
“Ilmu itu cahaya, dan cahaya Allah tidak akan diberikan kepada orang yang bermaksiat.”
(Imam Malik)
“Anak-anak,” ujarnya pelan, “tahukah kalian kenapa Imam Malik menolak mengajar seorang murid yang datang tanpa wudhu?”
Kelas terdiam.
“Karena bagi beliau, menuntut ilmu adalah ibadah. Dan ibadah tak layak dilakukan tanpa adab.”
Tiba-tiba, pintu kelas diketuk. Seorang murid perempuan, Rani, berdiri di luar, membawa roti di tangan.
“Bu, maaf telat. Soalnya beli sarapan dulu,” katanya tanpa rasa bersalah.
Bu Heni tersenyum, meski dalam hati perih.
“Tak apa, Nak. Silakan duduk. Tapi roti itu simpan dulu, ya.”
Rani menatapnya datar, lalu berjalan ke bangkunya sambil tetap menggigit roti.
Beberapa siswa tertawa kecil.
Pelajaran hari itu berjalan seadanya. Namun sebelum bel berbunyi, Bu Heni mengeluarkan sepotong roti dari tasnya — roti yang ia bawa sejak pagi.
“Anak-anak, Ibu ingin bercerita sebentar,” ujarnya.
“Dulu, ketika Ibu seusia kalian, Ibu juga sering lapar pagi-pagi. Tapi Ibu selalu menunggu waktu istirahat. Karena Ibu diajarkan satu hal: menghormati ilmu berarti menghormati suasananya. Ketika guru berbicara, kita belajar menahan diri.”
Kelas terdiam. Bahkan Rani pun menunduk pelan.
“Roti ini sederhana,” lanjut Bu Heni. “Tapi kalau kalian tahu kapan harus memakannya, kalian sedang belajar adab. Karena adab adalah tentang waktu, tempat, dan rasa hormat.”
Setelah kelas bubar, Rani menghampiri Bu Heni.
“Bu… maaf tadi saya makan di kelas. Saya nggak kepikiran kalau itu bisa dianggap nggak sopan.”
Bu Heni tersenyum. “Ibu tidak marah, Nak. Ibu hanya ingin kamu tahu bahwa adab kecil bisa melindungi ilmu besar.”
Sejak hari itu, Rani selalu datang lebih awal. Ia menyapa dengan salam, membantu menulis doa di papan tulis, dan sesekali membantu Bu Heni membawa buku. Teman-temannya pun mulai meniru.
Tiga bulan kemudian, kelas 8C dikenal bukan lagi karena keributannya, tapi karena sopan santunnya. Dan semuanya berawal dari sepotong roti, dan segenggam adab.
🌿 Esai: “Mengajar di Zaman Ketika Murid Tak Lagi Menunduk”
Dua puluh satu tahun menjadi guru PAI di SMPN 3 Ciamis bukan perjalanan yang singkat. Saya telah melihat generasi berubah dari membawa tas penuh buku menjadi hanya membawa ponsel pintar. Namun, perubahan paling besar bukan pada media belajar, melainkan pada sikap belajar.
Jika dulu murid menunduk saat guru lewat, kini guru yang menunggu sapaan. Jika dulu ucapan “terima kasih” diucapkan tulus, kini hanya berupa “oke, Bu” lewat chat. Dunia memang berubah, tapi adab seharusnya tidak ikut pudar.
1. Akar Masalah
Ketika saya mencoba memahami mengapa adab murid semakin memudar, saya menemukan beberapa hal:
-
Keluarga yang semakin sibuk, menyerahkan sepenuhnya pendidikan karakter kepada sekolah.
-
Teknologi yang mengubah cara berinteraksi.
Murid lebih pandai mengetik pesan daripada menatap mata gurunya. -
Budaya instan. Segalanya serba cepat, bahkan menghargai proses pun dianggap “tidak efisien”.
Padahal, Islam mengajarkan bahwa adab adalah pintu pertama menuju ilmu. Rasulullah SAW bersabda:
“Tidak termasuk golongan kami orang yang tidak menghormati yang lebih tua dan tidak menyayangi yang lebih muda.”
(HR. Tirmidzi)
2. Tantangan Guru PAI
Guru PAI sering kali menjadi garda terakhir dalam menjaga nilai-nilai adab di sekolah. Tapi tugas itu kini makin berat. Saat guru menegur, murid merasa diserang. Saat diberi nasihat, mereka menganggapnya “menggurui”.
Namun, saya percaya: nasihat yang disampaikan dengan kasih sayang akan menemukan jalannya sendiri ke hati murid.
Mengajar bukan hanya mentransfer ilmu, tapi juga menanamkan rasa. Tugas guru bukan sekadar memastikan nilai 80 di rapor, tapi memastikan nilai-nilai Islam tumbuh di hati.
3. Menumbuhkan Adab di Era Digital
Bagaimana mengembalikan adab di tengah dunia serba cepat?
Ada tiga hal sederhana yang saya lakukan:
-
Menjadi teladan.
Saya berusaha tidak hanya bicara tentang sopan santun, tapi mempraktikkannya: menyapa lebih dulu, mendengarkan keluhan murid tanpa menghakimi. -
Membiasakan salam dan doa di setiap awal pertemuan.
Walau sederhana, rutinitas ini mengingatkan bahwa setiap ilmu dimulai dengan keberkahan. -
Mendekat tanpa menggurui.
Saya belajar berbicara dengan bahasa zaman mereka — kadang lewat meme, video pendek, atau cerita ringan.
Perlahan, adab bisa tumbuh kembali. Mungkin tidak seperti dulu, tapi tetap berakar pada nilai-nilai yang sama.
4. Penutup
Adab tidak akan pernah lekang oleh waktu, selama ada guru yang mengajarkannya dengan hati, dan murid yang mau membuka diri untuk belajar dengan rendah hati.
Saya masih percaya, di balik setiap generasi yang tampak acuh, selalu ada hati yang rindu untuk diarahkan.
Karena sesungguhnya, adab adalah cahaya.
Dan tugas kita, para guru, adalah menjaga agar cahaya itu tak padam.
🌼 Penutup
Antologi ini bukan sekadar kumpulan tulisan, melainkan seruan lembut dari hati seorang guru yang masih mencintai profesinya, meski kadang harus menahan perih karena perubahan zaman.
Semoga setiap kata menghidupkan kembali kesadaran — bahwa ilmu hanya akan bermanfaat jika disertai adab.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar