Assalamualaikum wr. wb.
Untuk remidial PAI silahkan klik tautan berikut ini :
Karya: Bu Heni – Guru PAI SMPN 3 Ciamis
Segala puji bagi Allah SWT yang masih memberi kesempatan untuk menulis, merenung, dan berbagi rasa tentang dunia pendidikan yang terus berubah. Dua puluh satu tahun bukan waktu yang singkat untuk menyaksikan perubahan wajah pendidikan: dari papan tulis menjadi layar sentuh, dari tatapan mata menjadi emoji di layar, dan dari cium tangan pagi hari menjadi lambaian singkat di lorong.
Namun, perubahan yang paling terasa bukanlah pada teknologi, melainkan pada adab murid kepada guru—yang perlahan, tapi nyata, mulai memudar. Antologi ini adalah cermin kecil, sebuah catatan hati seorang guru PAI yang masih percaya bahwa pendidikan bukan sekadar soal nilai, tetapi soal budi, rasa, dan akhlak.
Semoga setiap kata di dalamnya menjadi pengingat lembut: bahwa ilmu tanpa adab hanyalah kesombongan yang berseragam rapi.
Ciamis, November 2025
Bu Heni – Guru PAI SMPN 3 Ciamis
Di lorong sekolah, langkah kaki beradu,
Tak lagi disertai suara lirih, “Assalamu’alaikum, Bu…”
Yang dulu meneduhkan hati lelah seorang guru,
Kini berganti gumaman pelan, bahkan kadang tak terdengar sama sekali.Dulu, tatapan mata murid penuh hormat,
Kini pandangan mereka lebih sering tertuju pada layar datar,
Jari-jemari sibuk menari di atas gawai,
Sementara buku-buku pelajaran seolah menunggu untuk dilupakan.Oh, muridku…
Tahukah engkau bahwa ilmu itu cahaya?
Dan cahaya tak akan menembus hati
Yang terhalang kabut sombong dan malas menyapa.Aku tidak meminta kau mencium tanganku setiap pagi,
Tapi semoga engkau masih tahu,
Bahwa menunduk sejenak di depan ilmu
Adalah tanda kau masih beradab.Aku tak ingin masa lalu kembali,
Aku hanya ingin masa depanmu berakar kuat pada akhlak.Karena ilmu tanpa adab,
Adalah taman tanpa air.
Indah dari jauh,
Tapi mati perlahan dari dalam.
Pagi itu, Bu Heni berjalan pelan menuju ruang guru. Di tangannya ada sepotong roti sobek yang tersisa dari sarapan terburu-buru. Hari ini adalah jadwal pelajaran PAI untuk kelas 8C — kelas yang belakangan sering membuatnya menghela napas panjang.
Sejak pandemi berakhir, Bu Heni menyadari satu hal: murid-murid kini jauh lebih cerdas secara teknologi, tapi lebih miskin dalam adab. Mereka cepat memahami konsep, tapi lambat dalam menghargai proses. Mereka tahu semua hal di internet, tapi tak lagi hafal tata krama di dunia nyata.
Begitu masuk kelas, suara riuh sambutan bukan berupa salam, melainkan:
“Bu, sinyal Wi-Fi-nya lemah, nih!”
“Bu, tugasnya udah dikirim belum dibales-bales!”
“Bu, nanti boleh sambil makan, kan?”
Bu Heni tersenyum hambar.
“Anak-anak, mari mulai dengan doa dulu, ya,” ucapnya lembut.
Beberapa murid berdiri dengan malas. Ada yang masih menunduk ke layar ponsel, pura-pura sibuk.
Ketika doa selesai, Bu Heni menatap mereka satu per satu.
“Hari ini kita belajar tentang adab terhadap guru,” katanya.
Terdengar bisik-bisik kecil:
“Duh, pelajaran begini lagi…”
“Udah zaman digital, masih aja bahas begituan…”
Tapi Bu Heni tetap tenang. Ia menulis di papan tulis:
“Ilmu itu cahaya, dan cahaya Allah tidak akan diberikan kepada orang yang bermaksiat.”
(Imam Malik)
“Anak-anak,” ujarnya pelan, “tahukah kalian kenapa Imam Malik menolak mengajar seorang murid yang datang tanpa wudhu?”
Kelas terdiam.
“Karena bagi beliau, menuntut ilmu adalah ibadah. Dan ibadah tak layak dilakukan tanpa adab.”
Tiba-tiba, pintu kelas diketuk. Seorang murid perempuan, Rani, berdiri di luar, membawa roti di tangan.
“Bu, maaf telat. Soalnya beli sarapan dulu,” katanya tanpa rasa bersalah.
Bu Heni tersenyum, meski dalam hati perih.
“Tak apa, Nak. Silakan duduk. Tapi roti itu simpan dulu, ya.”
Rani menatapnya datar, lalu berjalan ke bangkunya sambil tetap menggigit roti.
Beberapa siswa tertawa kecil.
Pelajaran hari itu berjalan seadanya. Namun sebelum bel berbunyi, Bu Heni mengeluarkan sepotong roti dari tasnya — roti yang ia bawa sejak pagi.
“Anak-anak, Ibu ingin bercerita sebentar,” ujarnya.
“Dulu, ketika Ibu seusia kalian, Ibu juga sering lapar pagi-pagi. Tapi Ibu selalu menunggu waktu istirahat. Karena Ibu diajarkan satu hal: menghormati ilmu berarti menghormati suasananya. Ketika guru berbicara, kita belajar menahan diri.”
Kelas terdiam. Bahkan Rani pun menunduk pelan.
“Roti ini sederhana,” lanjut Bu Heni. “Tapi kalau kalian tahu kapan harus memakannya, kalian sedang belajar adab. Karena adab adalah tentang waktu, tempat, dan rasa hormat.”
Setelah kelas bubar, Rani menghampiri Bu Heni.
“Bu… maaf tadi saya makan di kelas. Saya nggak kepikiran kalau itu bisa dianggap nggak sopan.”
Bu Heni tersenyum. “Ibu tidak marah, Nak. Ibu hanya ingin kamu tahu bahwa adab kecil bisa melindungi ilmu besar.”
Sejak hari itu, Rani selalu datang lebih awal. Ia menyapa dengan salam, membantu menulis doa di papan tulis, dan sesekali membantu Bu Heni membawa buku. Teman-temannya pun mulai meniru.
Tiga bulan kemudian, kelas 8C dikenal bukan lagi karena keributannya, tapi karena sopan santunnya. Dan semuanya berawal dari sepotong roti, dan segenggam adab.
Dua puluh satu tahun menjadi guru PAI di SMPN 3 Ciamis bukan perjalanan yang singkat. Saya telah melihat generasi berubah dari membawa tas penuh buku menjadi hanya membawa ponsel pintar. Namun, perubahan paling besar bukan pada media belajar, melainkan pada sikap belajar.
Jika dulu murid menunduk saat guru lewat, kini guru yang menunggu sapaan. Jika dulu ucapan “terima kasih” diucapkan tulus, kini hanya berupa “oke, Bu” lewat chat. Dunia memang berubah, tapi adab seharusnya tidak ikut pudar.
Ketika saya mencoba memahami mengapa adab murid semakin memudar, saya menemukan beberapa hal:
Keluarga yang semakin sibuk, menyerahkan sepenuhnya pendidikan karakter kepada sekolah.
Teknologi yang mengubah cara berinteraksi.
Murid lebih pandai mengetik pesan daripada menatap mata gurunya.
Budaya instan. Segalanya serba cepat, bahkan menghargai proses pun dianggap “tidak efisien”.
Padahal, Islam mengajarkan bahwa adab adalah pintu pertama menuju ilmu. Rasulullah SAW bersabda:
“Tidak termasuk golongan kami orang yang tidak menghormati yang lebih tua dan tidak menyayangi yang lebih muda.”
(HR. Tirmidzi)
Guru PAI sering kali menjadi garda terakhir dalam menjaga nilai-nilai adab di sekolah. Tapi tugas itu kini makin berat. Saat guru menegur, murid merasa diserang. Saat diberi nasihat, mereka menganggapnya “menggurui”.
Namun, saya percaya: nasihat yang disampaikan dengan kasih sayang akan menemukan jalannya sendiri ke hati murid.
Mengajar bukan hanya mentransfer ilmu, tapi juga menanamkan rasa. Tugas guru bukan sekadar memastikan nilai 80 di rapor, tapi memastikan nilai-nilai Islam tumbuh di hati.
Bagaimana mengembalikan adab di tengah dunia serba cepat?
Ada tiga hal sederhana yang saya lakukan:
Menjadi teladan.
Saya berusaha tidak hanya bicara tentang sopan santun, tapi mempraktikkannya: menyapa lebih dulu, mendengarkan keluhan murid tanpa menghakimi.
Membiasakan salam dan doa di setiap awal pertemuan.
Walau sederhana, rutinitas ini mengingatkan bahwa setiap ilmu dimulai dengan keberkahan.
Mendekat tanpa menggurui.
Saya belajar berbicara dengan bahasa zaman mereka — kadang lewat meme, video pendek, atau cerita ringan.
Perlahan, adab bisa tumbuh kembali. Mungkin tidak seperti dulu, tapi tetap berakar pada nilai-nilai yang sama.
Adab tidak akan pernah lekang oleh waktu, selama ada guru yang mengajarkannya dengan hati, dan murid yang mau membuka diri untuk belajar dengan rendah hati.
Saya masih percaya, di balik setiap generasi yang tampak acuh, selalu ada hati yang rindu untuk diarahkan.
Karena sesungguhnya, adab adalah cahaya.
Dan tugas kita, para guru, adalah menjaga agar cahaya itu tak padam.
Antologi ini bukan sekadar kumpulan tulisan, melainkan seruan lembut dari hati seorang guru yang masih mencintai profesinya, meski kadang harus menahan perih karena perubahan zaman.
Semoga setiap kata menghidupkan kembali kesadaran — bahwa ilmu hanya akan bermanfaat jika disertai adab.
Assalamualaikum
wr. wb.
Untuk
latihan soal PAI kelas 9 silahkan klik tautan berikut ini :
Latihan
Soal ke-4
Keterangan
: Soal boleh dikerjakan berkali-kali
السلام عليكم ورØÙ…Ø© الله وبركاته
Saya Heni Fatmawati Calon Guru Penggerak Angkatan 7 Kabupaten Ciamis Propinsi Jawa Barat. Pada kesempatan ini saya akan menulis mengenai Refleksi Aksi Nyata pada Modul 3.1 Pengambilan Keputusan Berbasis Nilai-Nilai Kebajikan Sebagai Pemimpin
Dalam menulis refleksi Aksi Nyata ini saya menggunakan model 1 yaitu model 4F: Fact; Feeling; Findings;
dan Future, yang diprakarsai oleh Dr. Roger Greenaway. 4F dapat diterjemahkan
menjadi 4P yakni: Peristiwa; Perasaan; Pembelajaran; dan Penerapan.
A.
Latar
Belakang
Hari-hari terasa cepat berkat program Pendidikan Guru Penggerak yang saya ikuti. Ini karena kegiatan yang padat dengan membutuhkan banyak kerja dan pemikiran. Saya sangat bersyukur telah diberikan kesempatan untuk berpartisipasi dalam kegiatan yang diadakan oleh Kemendikbud Ristek. Fokus dari kegiatan ini adalah untuk menciptakan pemimpin pembelajaran yang memiliki nilai, posisi, dan keterampilan yang dapat mempengaruhi komunitas pembelajaran di sekolah, terutama siswa. Diharapkan dengan program ini, siswa akan memiliki profil pelajar pancasila dan memiliki lebih banyak kebebasan belajar. Salah satu tugas guru adalah memimpin dan mengarahkan pertumbuhan siswanya, menurut filosofi pendidikan Ki Hajar Dewantara, yang menjadi dasar kurikulum Program Pendidikan Guru Penggerak ini. Sebaliknya, saya terus mengikuti kelas dan aktivitas lainnya yang terkait dengan pekerjaan saya sebagai guru Pendidikan Agama Islam, seperti mengawasi kegiatan Pentas PAI, yang membutuhkan banyak waktu dan pemikiran, mulai dari pemilihan siswa hingga pembinaan dan terakhir pelaksanaan. Selain itu, saya dipercaya sebagai panitia kabupaten untuk pelaksanaan kegiatan tersebut. Saya menghadapi dilema etika dalam situasi seperti ini karena program guru penggerak, tanggung jawab mengajar, dan juga terkait dengan kegiatan PENTAS PAI yang harus saya ikuti dan laksanakan. Memiliki pemahaman yang baik tentang modul 3.1 tentang pengambilan keputusan sebagai pemimpin pembelajaran memainkan peran penting di sini.
Seorang
pemimpin pembelajaran harus memahami bagaimana membuat keputusan yang tepat
dengan mempertimbangkan berbagai alasan dan bukannya hanya memandang satu hal
atau pihak. Namun, seorang guru harus selalu mempertimbangkan manfaat murid
saat membuat keputusan. yang, tentu saja, memasukkan prinsip-prinsip universal
yang berlaku dan berkembang di masyarakat.
Mereka yang bertanggung jawab untuk memastikan keberhasilan program pendidikan harus benar-benar memahami dengan selalu memperhatikan kebutuhan dan perkembangan potensi siswa. Semua keputusan harus dibuat secara bertanggung jawab. Sangat penting untuk bertanggung jawab atas keputusan yang dibuat karena mereka telah mempertimbangkan 9 langkah pengambilan keputusan dan pengujian keputusan dalam situasi dilema etika.
B.
Aksi nyata ini dilakukan untuk mencapai tujuan berikut:
1.
Menerapkan
pemahaman dan pengetahuan yang diperoleh dari paket modul 3.1 tentang
Pengambilan Keputusan sebagai Pemimpin Pembelajaran ke dalam pembelajaran
kepada siswa dan pelaksanaan tugas lainnya.
2.
Menjadi
praktik yang diharapkan yang dapat diikuti oleh rekan sejawat (guru lainnya).
3.
Membuat
keputusan yang berpihak kepada murid untuk membantu murid sebaik mungkin.
4.
Membantu
guru and murid menyelesaikan masalah dengan meningkatkan komunikasi dan
kolaborasi sesama guru, murid, dan orang tua/wali murid serta meningkatkan
peran wali kelas
5.
Menunjukkan
dan meningkatkan perhatian dan pelayanan kepada siswa yang perlu ditingkatkan
sambil mempertahankan kualitas.
6.
Saya
akan menjadi orang yang lebih baik jika saya melihat tantangan sebagai
tantangan.
7.
Melihat
anak sebagai peluang untuk meningkatkan kemampuan mereka. Saya percaya bahwa
setiap anak memiliki potensi.
8.
Jangan
putus asa dan percaya pada guru lain yang mungkin melakukan perubahan dengan
lambat. Saya tidak menjauh dari mereka; sebaliknya, saya berbicara dengan guru
yang tidak memahami atau tidak ingin melakukan perubahan dengan using
pendekatan batin untuk dapat mengubah paradigma.
9.
Menyadari
bahwa ada waktu yang cukup untuk belajar dari guru lain. Dibandingkan dengan
inovasi, waktu untuk berkolaborasi sebagai satu tim orang dewasa di sekolah
sangat penting.
10.
Berkolaborasi
dengan guru lain dan kepala sekolah untuk menemukan paradigma Proses
pengambilan keputusan
11. Mengakui bahwa PGP pada dasarnya adalah program yang dimaksudkan untuk dan oleh expert. untuk melepaskan bakat yang mungkin ada pada anak-anak,
12. Mengakui bahwa setiap anak itu unik dan mengakui potensi yang terkandung dalam setiap siswa dan pendidik di sekitarnya.
C. Tolak Ukur dari Aksi nyata ini adalah:
Tujuan
utama dari aksi nyata ini adalah untuk menyelesaikan masalah tanpa membuat
orang dirugikan (melayani murid dan memenuhi tugas pribadi guru).
Informasi
dan pemahaman tentang strategy penyelesaian masalah yang berkaitan dengan dilema
etika,
Pengelolaan
diri terutama berkaitan dengan manajemen waktu sehingga setiap tugasnya dapat
diselesaikan sesuai dengan prioritasnya saat ini.
Munculnya
kesadaran sosial, yang berarti dapat berbagi informasi dan pengalaman dengan
teman sejawat, terutama di sekolah.
Ketika
dihadapkan pada masalah etika yang harus diselesaikan, keputusan diambil.
Terjalinnya
konsultasi, komunikasi, dan kerja sama yang efektif dengan seluruh stakeholder
yang ada untuk memberikan layanan terbaik kepada siswa.
D. Hasil Aksi Nyata
E. Linimasa Tindakan yang dilakukan
F. Dukungan yang dibutuhkan
2.
Feeling / Perasaan
a.
Saat
merencanakan tindakan nyata, saya dihadapkan pada paradigma dilema etika jangka
pendek versus jangka panjang. Dilema ini menentukan apakah program pendidikan
guru penggerak harus menjadi prioritas? Sedangkan di satu sisi saya harus
memberikan pelayanan kepada murid (pembelajaran), dan di sisi lain, memberikan
bimbingan latihan siswa untuk mempersiapkan Pentas PAI.
b.
Melalui
elaborasi pemahaman bersama instruktur, diskusi dengan fasilitator, dan
dukungan dari pengajar praktik dan calon guru penggerak, , dan belajar secara
mandiri, saya melakukan metakognisi terhadap materi pengambilan keputusan
sebagai pemimpin pembelajaran dengan mengambil prinsip resolusi yakni Berpikir
berbasis hasil akhir (End-based thinking). Artinya, keputusan yang diambil
untuk kebaikan orang banyak.
c.
Selanjutnya
saya menerapkan 9 langkah pengujian dan pengambilan keputusan. Mulai dari
mengenali nilai-nilai yang saling bertentangan, menentukan siapa yang terlibat,
mengumpulkan fakta-fakta yang relevan, melakukan pengujian benar atau salah: Uji
Legal (Apakah ada pelanggaran hukum dalam situasi ini), Uji
Regulasi/profesionalitas (Apakah ada pelanggaran peraturan/ kode etik), Uji
Intuisi (Menurut intuisi/perasaan kita, apa ada yang salah), Uji Halaman Depan
Koran Apabila hal ini dipublikasikan (warga di luar sekolah tahu), apakah akan
merasa malu dan tidak nyaman), dan Uji panutan/idola (apa yang dilakukan orang
bijak jika masalah ini terjadi), Pengujian paradigma Benar Lawan Benar,
melakukan prinsip resolusi, Investigasi opsi trilemma (Apakah ada sebuah
penyelesaian yang kreatif lainnya yang tidak terpikir sebelumnya untuk
menyelesaikan masalah ini), membuat Keputusan dan terakhir melihat kembali
keputusan dan merefleksikan.
Setelah
melakukan tindakan di atas, saya merasa lebih optimis saat memutuskan untuk
tetap menjalankan tugas-tugas program jangka pendek sebagai guru, pembimbing,
dan pelatih siswa dalam persiapan PENTAS PAI, serta tugas-tugas sebagai calon
guru penggerak, yang merupakan program jangka panjang dengan tenggat waktu
penugasannya lebih lama, sehingga saya dapat melakukannya secara seimbang dan
dengan cara yang efektif dan efisien mengatur waktu. Oleh karena itu, saya
dapat melakukan pengimbasan kepada pendidik dan tenaga kependidikan dengan
penuh semangat.
3. Finding/Pembelajaran
Dilema
etika yang saya hadapi telah mengajarkan saya beberapa hal, seperti:
a.
Sebagai
pemimpin pembelajaran, kita harus memiliki kemampuan daya tahan, juga dikenal
sebagai resiliensi (daya lenting), agar kita dapat beradaptasi dengan berbagai
kondisi dan kesulitan.
b.
Guru
harus menyadari bahwa dia adalah satu-satunya yang dapat menyelesaikan banyak
tugas dan tanggung jawab.
c.
Agar
semua tugas guru dapat diselesaikan dengan baik sesuai dengan prioritas yang
ada, guru harus memiliki keterampilan pengelolaan diri, khususnya dalam hal
manajemen waktu.
d.
Guru
harus memiliki kesadaran sosial, yang berarti mereka dapat berbagi pengetahuan
dan pengalaman dengan rekan sejawat, terutama di satu sekolah.
e.
Seorang
pemimpin pembelajaran harus memiliki kemampuan untuk membuat keputusan.
f. Guru harus secara aktif berkonsultasi, berkomunikasi, dan bekerja sama dengan seluruh stakeholder yang ada dalam rangka memberikan pelayanan secara optimal kepada murid
4.
Future/Penerapan
Aksi nyata ini sangat penting sekali sebagai
bekal dan melatih diri untuk pengambilan keputusan yang bermaslahat bagi
kebanyakan. Saya akan memperkenalkan tahapan 9 langkah pengambilan keputusan
kepada rekan yang paling dekat dengan saya dulu, baru kemudian kepada yang
lain. Selain konsep-konsep tersebut, sudah tentu ada hal lain yang harus
diperhatikan yaitu norma dan sopan santun.
Assalamualaikum wr. wb.
Untuk latihan soal PAI kelas 9 silahkan klik tautan berikut ini :
Keterangan : Soal boleh dikerjakan berkali-kali